Posts

Showing posts with the label corona

Balada Corona: Ganjar Pranowo, Anies Baswedan & Ridwan Kamil menuju Pilpres 2024?

Image
Indonesia juga mengalami musibah global yang diakibatkan oleh COVID-19. Presiden Jokowi memilih untuk melaksanakan peraturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) ketimbang membuat peraturan tentang lockdown seperti yang dilakukan oleh Malaysia, Inggris, Italia, New Zealand atau negerinya Donald Trump di Amerika Serikat, dan tentu saja Tiongkok.  Ketika Gubernur Ganjar Pranowo menerima bansos dari Menteri BUMN Erick Thohir untuk warga Jawa Tengah (beritasatu.com) Pilihan PSBB itu tentu sudah dipertimbangkan dengan sangat matang oleh Presiden Joko Widodo bersama kabinet Indonesia Maju dan tim yang telah dibentuk Presiden. Ada pertimbangan dari aspek sosial, politik, budaya dan tentu saja aspek ekonomi. Meskipun ada usul lockdown dari Anies Baswedan atau beberapa politisi, juga para pengamat profesional maupun yang muncul di media sosial.  Memang tidak mudah untuk melaksanakan PSBB, apalagi lock down. Terbukti banyak kejadian unik dan heboh di lapangan, yang sering membuat repo

Respon Rudi S. Kamri pada Presiden Jokowi terkait naiknya iuran BPJS

Image
BPJS disiapkan dan diputuskan secara tergesa-gesa pada pemerintahan Presiden SBY atau Susilo Bambang Yudhoyono dan mendapat persetujuan DPR saat itu yang dituangkan pada  Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.  BPJS sebenarnya mempunyai tujuan baik untuk memberikan jaminan sosial dan kesehatan secara nasional baik untuk rakyat maupun para pekerja. Setelah berjalan beberapa tahun, Presiden Joko Widodo sempat menaikkan iuran BPJS ini namun dibatalkan oleh MA, dan akan dinaikkan kembali, dan mulai berlaku pada 1 Juli 2020.  Lalu apa tanggapan Rudi S. Kamri, seorang pemerhati politik dan sosial yang juga meruapakan Chairman RdS Institute yang berkedudukan di Jakarta ini?  Kenaikan Iuran BPJS:  Mengisi Air Ke Kapal Bocor Di Tengah Badai Oleh: Rudi S Kamri Presiden Jokowi pada 5 Mei 2020 menandatangani beleid baru tentang kenaikan iuran BPJS melalui Perpres nomor 64 tahun 2020 yang akan berlaku mulai 1 Juli 2020. Rincian kenaikan iuran

Tatkala Sengkuni Gagal Maning

Image
Masyarakat Jawa dan Bali pasti mengenal tokoh Sangkuni atau Sengkuni, Raja Gandara yang “betah” ngendog di Kerajaan Astinapura, karena saudarinya menikah dengan Raja Dastarata ayah dari para 100 Kurawa. Kisah Sengkuni juga muncul dalam pagelaran Wayang Kulit, baik di Bali maupun di Jawa, juga dalam pertunjukan Wayang Wong, yang diperankan oleh orang tentu saja.   Sengkuni sedang memegang dadu dalam serial TV Mahabaratha, made in Bollywood, India, yang sempat ngetop di Indonesia. (coretanpemuda96.blogspot.com) Adegan Sengkuni sering muncul “lumayan” dominan di pertunjukan itu karena memiliki suara dan dialog yang sering dibuat lucu, sehingga bisa membuat para penonton tertawa. Namun, Sengkuni lah yang membuat Panca Pandawa atau Prabu Yudistira, putra Pandu kehilangan kerajaannya karena dikalahkan dalam permainan dadu oleh Kurawa. Tentu saja dadu itu milik Sengkuni.  Begitulah sepenggal kisah Sengkuni dalam epos Mahabaratha, sebuah prosa atau novel kuno yang sangat panjang

Menghadapi normal baru pasca Covid-19? Are you ready?

Image
Berbeda dengan lagu Didi Kempot yang bergenre Campur Sari, - di mana sebelumnya perasaan seseorang ambyar karena patah hati, - namun Didi Kempot  mampu membuat anak muda generasi milenial, juga mereka yang merasa muda, walaupun patah hati tetap bisa bergoyang dan berdendang meskipun hati remuk redam karena kecewa berat setelah diputus tali cintanya oleh seseorang yang selama ini mengisi relung hati yang paling dalam.  Akibatnya perasaan pun jadi Ambyar. Namun Didi Kempot sanggup membuat mereka tetap bisa bersenandung di kala sepi atau ikut berjoged menyaksikan konser sang Maestro yang memang pantas disebut sebagai Godfather of The Brokenheart.    Barangkali itulah a new normal ala Didi Kempot.  Namun, perasaan manusia adalah berbeda ketika menghadapi Covid-19 atau virus Corona, tidak semua mampu menghadapi dengan hati teguh, begitu pula pemerintahan di berbagai negara yang diserang oleh pandemi global ini, bahkan negara super power sekalipun, ternyata mereka glagapan dan amby

Kenapa Presiden Jokowi Benar?

Image
Setiap orang pasti punya cara pandang tersendiri terhadap sesuatu, tidak selalu sama atau terjadi keseragaman. Perbedaan persepsi juga terjadi di antara kelompok yang punya tujuan sama sekalipun. Sering banget ada sebuah kalimat, juga sebuah kata pun bisa ditafsirkan berbeda dari makna aslinya. Hal ini terjadi pula ketika Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa " ... kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan," Presiden Jokowi ketika blusukan di sebuah kampung yang terletak di sebuah gang sempit di Bogor, pada 26 April 2020 sekitar jam 10 malam untuk membagikan sembako untuk warga pra sejahtera yang terdampak virus Corona secara ekonomi (minews.id) Apa yang diucapkan Presiden Jokowi tersebut menimbulkan reaksi dan respon dari berbagai pihak, dan diantaranya ada tanggapan negatif.  Jika kalimat atau kata "berdamai dengan Covid-19" itu dituliskan dalam sebuah lagu, puisi atau prosa, mungkin akan dianggap puitis, bahkan bisa saja di

Kartu PraKerja Jokowi apakah harus dievaluasi total?

Image
Kartu PraKerja yang merupakan salah satu andalan Presiden Joko Widodo pada kampanye Pilpres 2019, akhirnya diberlakukan setelah Covid-19 atau virus Corona juga berdampak pada ekonomi nasional. Selain banyak lulusan setingkat SMA dan perguruan tinggi yang merupakan fresh graduate, yang pasti tidak bisa berlama-lama merasa happy karena sudah lulus, melainkan juga harus mencari pekerjaan. Bukan hanya sulit mencari pekerjaan, dampatk virus Corona yang membahayakan kesehatan manusia ini juga telah membuat para pekerja kecil, menengah dan bergaji tinggi juga terancam menjadi jobless sehingga unemployment rate pasti akan meningkat di Indonesia.  Presiden Jokowi menjelaskan fungsi Kartu PraKerja (kaltim.tribunnews.com) Selain mengancam nyawa warga, virus Corona juga menyebabkan banyak perusahan kecil, menengah dan besar yang sudah melakukan PHK, bahkan jumlah karyawan yang dirumahkan dan terancam kena Pemutusan Hubungan Kerja juga akan bertambah. Ini pasti mengkhawatirkan, baik para

Aman berpuasa di tengah pandemi Corona untuk warga dan petugas kesehatan

Image
Bulan Ramadhan yang selalu dinantikan umat Islam di seluruh dunia, kini terjadi pada kondisi prihatin. Bulan puasa pada 2020 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ada rasa cemas karena warga global takut terpapar oleh Covid-19. Keresahan ini juga dialami oleh umat lain di planet kita.  Buka puasa gembira, aman dan sehat di rumah (kompas.com) Untuk umat Islam yang sedang berpuasa pun pasti merasakan kekhawatiran ini. Kecemasan ini wajar, namun dengan mengikuti petunjuk pemerintah tentang social distancing, juga physical distanding dan menggunakan masker kain saat harus terpaksa keluar rumah, maka sistem imun dalam tubuh akan tetap terjaga, sehingga mampu melawan sengatan virus Corona. Apa yang harus kita lakukan? Begitu pula para petugas kesehatan, relawan dan siapapun yang sedang berpuasa terutama yang berhadapan langsung dengan para pasien yang terpapar virus Corona? Ternyata organisasi kesehatan dunia, World Health Organization atau WHO juga memberikan tips agar bis

Empati Sri Mulyani untuk tenaga Medis dan jaga Rupiah tetap perkasa di tengah serbuan virus Corona

Image
"Kita dapat mencontoh semangat Kartini. Meski di rumah, you can always do good think for your family, your community and your country. Never try to find any excuses to do good things for others," Ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani pada videonya dalam rangka peringatan Hari Kartini, 21 April 2020.  Menkeu Sri Mulyani tampil anggun dengan kebaya (lifestyle.kompas.com) Hal ini diucapkan Sri Mulyani setelah gelontorkan dana  Rp15,29 triliun untuk Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), yang sebelumnya hanya 11.67 triliun, jadi kenaikannya lumayan banyak. Ini penting supaya pelayanan kesehatan di saat tenaga medis merawat para pasien Covid-19 bisa lebih sempurna.  Sebagian dari dana itu adalah digunakan untuk memberikan insentif untuk tenaga kesehatan yang bertugas di  Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) milik Pemerintah atau Swasta, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda), serta personel dinas kesehatan yang melakukan penanganan pasien ya

Information